Kuliah di luar negeri keliatan keren, tapi persiapannya nggak sesimpel video 15 detik di TikTok atau Instagram. Banyak yang keburu berangkat terus kaget sendiri: biaya hidup ternyata beda jauh, bahasa masih kagok, dokumen ribet, sampai mental yang tiba-tiba down.
Kalau kamu nggak mau kena “culture shock” parah pas nyampe negeri orang, stop cuma scrolling dan mulai siapin semuanya dari sekarang. Jangan cuma ikut tren, tapi pastikan kamu beneran siap jadi mahasiswa internasional!
Ini 6 hal krusial yang sering di skip, padahal penting banget:
1. Hitung Cost Hidup Secara Realistis
Sebelum packing koper, kamu harus sadar: kuliah di luar negeri itu bukan cuma urusan biaya kuliah tapi soal bertahan hidup.
Dari pengalaman mahasiswa di Eropa (khususnya UK), biaya hidup itu tricky. Ada anggapan £200 cukup. Realitanya? £200 (sekitar Rp4 jutaan) itu biasanya cuma cukup untuk belanja bahan masak (groceries) kalau kamu super hemat.
Angka itu belum termasuk transport, paket data, laundry, atau kebutuhan tak terduga. Kalau kamu mau hidup yang "manusiawi" (bisa sesekali ngopi atau main keluar), estimasi amannya adalah:
- Biaya Hidup (di luar sewa kamar) : £200–£400 (sekitar Rp4 jutaan)
- 1 semester (5–6 bulan): mulai dari £1.000–£2.000 tergantung pola hidup
Dikota-kota besar perancis, London, Amsterdam dll bisa menyentuh £1.800 (sekitar 30 jutaan) perbulan atau lebih
Intinya: Siapkan dana darurat. Lebih baik over-budget daripada kelaparan di akhir bulan
2. Bahasa Inggris: Skor Tinggi itu Srayat, “Berani” itu Kunci
Masalah bahasa sering jadi batu sandungan. secara administrasi, kampus memang minta skor resmi:
- IELTS: Minimal 7.0–7.5 (tergantung jurusan).
- TOEFL iBT: Umumnya 90–100 ke atas
Tapi ingat, skor di kertas beda dengan praktik di lapangan. Yang bikin kamu survive bukan cuma grammar yang sempurna, tapi keberanian harus bisa conversational setidaknya karena buat social life!. Banyak mahasiswa bilang"Yang penting BERANI dulu, grammar belakangan." Kamu harus pede ngobrol dengan aksen yang beragam, mulai dari aksen British yang cepat sampai aksen teman sekelas dari India atau China
3. Kehidupan Sosial & Mental: Temukan “Rumah” dan “Dunia Baru”
Culture shock is real! Cuaca yang mendung terus, makanan yang beda, atau kesepian bisa bikin mental goyah.
- Cari Support System, Hampir semua negara punya PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia). Ini penyelamat banget buat cari teman senasib, info makanan halal/indonesia, atau sekadar curhat pakai bahasa ibu.
- Expand Circle, Jangan cuma main sama orang Indo! Gabung sama teman internasional bikin kamu lebih cepat adaptasi dan bahasa Inggris kamu makin lancar.
- Siap Mental, Lingkungan di sana biasanya lebih individualis, tertib, dan fast-paced. Kamu harus mandiri 100%.
4. Akademik: Siap-siap "Dihajar" Essay & Critical Thinking
Sistem kuliah di luar negeri (terutama Barat) beda banget sama di sini. Jangan kaget kalau jarang ada ujian hafalan, tapi gantinya adalah: ESSAY.
Prepare yourself for ESSAYS.
Kamu bakal dituntut untuk berpikir kritis, bukan cuma menyalin buku.
Plagiarisme adalah hal fatal. Belajarlah cara mengutip (referencing) yang benar dari sekarang. Salah kutip sedikit, nilai bisa nol.
Biasakan membaca jurnal akademis dan menulis opini analitis mulai hari ini.
5. Hal Sepele yang Sering Diremehkan (Padahal Penting!)
Hal-hal kecil ini sering lupa disiapin, tapi kalau nggak ada, bikin pusing setengah mati:
- Universal Adaptor, Colokan listrik tiap negara beda. Bawa dari Indo, di sana mahal!
- Obat Pribadi, Obat spesifik (misal obat maag atau alergi merk tertentu) belum tentu ada di sana. Bawa stok cukup.
- Bank Digital/Internasional, Pastikan kartu debitmu bisa dipakai global (logo Visa/Mastercard) atau buka akun bank digital (seperti Wise/Revolut) segera setelah sampai.
- Skill Masak Dasar, Ini kunci penghematan terbesar. Kalau nggak bisa masak, dompetmu bakal jebol.
- Soft Copy Dokumen, Scan paspor, ijazah, visa, simpan di Google Drive. Jaga-jaga kalau dokumen fisik hilang.
6. Mindset: Kesempatan Nggak Datang Dua Kali
Ini poin yang sering dibilang alumni. Kuliah di luar negeri itu bukan cuma soal ijazah, tapi soal akses.
Ada cerita mahasiswa yang nekat kirim cold email ke profesor untuk jadi asisten riset sukarela. Hasilnya? Dia nggak digaji uang, tapi dapat akses ke project mahal dan rekomendasi karier yang luar biasa.
"Every 'hello', every email, every small courage matters."
Kalau kamu cuma kuliah-pulang-kuliah-pulang (Kupu-Kupu), kamu rugi bandar. Manfaatkan setiap peluang networking.
Kuliah di luar negeri adalah perjalanan panjang yang butuh keberanian, perhitungan matang, dan mental baja. Kalau kamu sudah baca sampai sini, berarti kamu satu langkah lebih serius dibanding yang lain.
Mulai cicil persiapanmu dari sekarang. Begitu kakimu mendarat di bandara tujuan, yang membedakan kamu dari ribuan mahasiswa lain bukan cuma skor IELTS, tapi seberapa siap mentalmu menghadapi dunia baru. Good luck!