7 Tips Menghadapi Quarter Life Crisis Buat Gen Z

Bagikan:
7 Tips Menghadapi Quarter Life Crisis Buat Gen Z

Awal tahun sering jadi momen mikir ulang soal karier lanjut, belok, atau mulai ulang. Di usia 18–35, dunia kerja semakin kompetitif, serba digital, dan jalurnya nggak lagi lurus. Karena itu, karier hari ini bukan cuma soal kerja keras, tapi soal strategi, skill yang relevan, dan cara bertahan di long game. Berikut tujuh hal penting yang perlu diperhatikan biar tetap relevan dan naik level di tengah persaingan.


1. Stop Nunggu “Siap” Karier Dibangun, Bukan Ditunggu
Di usia 18–35, banyak orang stuck bukan karena kurang pintar, tapi karena kebanyakan nunggu momen ideal. Nunggu skill lengkap, nunggu pede, nunggu kerjaan “impian”.
Dari berbagai diskusi soal dunia karir yang sering muncul satu benang merah:
kerja di tempat biasa aja nggak apa-apa. nggak harus dream job, nggak harus perusahaan terkenal. yang penting tempat itu bisa bantu bangun skill dan value diri yang kepake di mana pun, Realitanya, industri hari ini lebih memprioritaskan:
- Speed of Learning dibanding sekadar nama besar perusahaan.
- Problem-solving dibanding gelar atau jabatan
- Actual Value dibanding dari mana kamu memulai


2. Digital Skill = Survival Skill (Bukan Bonus)
Di era digitalisasi bikin hampir semua bidang nyentuh teknologi. Bahkan kerja non-tech pun butuh:
- basic data literacy
- tools awareness (Notion, Google Workspace, AI tools, Microsoft)
- digital communication (email, Slack, online presentation)
Gak perlu jago coding, tapi setidaknya kamu nggak bingung kalau diminta koordinasi di Notion atau bikin laporan pakai bantuan AI


3. AI Itu sebagai Teammate, Bukan rival
AI bukan ancaman kalau tahu cara pakainya. Yang unggul justru yang bisa:
- pakai AI buat riset cepat
- bantu ide, drafting, content Planning
- efisiensi workflow
Rule-nya simpel: AI handle kerja teknis, otak kamu pegang strategi & decision making. Yang nolak AI pelan-pelan ke-outdated.
Setelah punya skill-nya, pertanyaannya; gimana orang lain bisa tau kalo kamu punya skill itu? Di sinilah digital presence bermain.


4. Digital Presence = CV Kedua (Kadang lebih dulu di cek)
Di usia 18–35, jejak digital itu aset karier. LinkedIn, Instagram, TikTok, Medium, sampai GitHub bisa ngebuka pintu atau menutup peluang. Personal branding bukan cuma buat influencer atau freelancer. Sekarang, recruiter juga stalking LinkedIn, Instagram, sampai portofolio digital. Realitanya:
- recruiter ngecek LinkedIn sebelum interview
- klien nilai cara mikir lewat konten
- konsistensi & positioning lebih penting dari viral
Online presence kamu = reputasi profesional versi real-time.


5. Karier Nggak Harus Lurus, Tapi Harus Ada Benang Merah
Job hopping, pindah industri, atau  start ulang muter arah itu udah common bukan tanda gagal. Di usia 18–35, zig-zag karir dan career pivot itu normal. Yang penting bukan stay lama di satu role, tapi tiap langkah menambah skill dan value.
Ijazah tetap fondasi, tapi di industri digital yang cepat, micro-credentials (kursus singkat & sertifikasi spesifik) sering lebih kepake karena langsung aplikatif.
Main strateginya:
- jangan nunggu S2 buat belajar hal baru
- ambil kursus 3–6 bulan yang relevan sama tren (Digital Marketing, Project Management, UI/UX, data, AI tools)
- pastiin tiap pindah role itu naik level, bukan sekadar pindah capek
Di era sekarang, learning agility adalah aset karier paling mahal.


6. Networking Itu Akses, Bukan Basa-basi
Banyak opportunity datang bukan dari job portal, tapi dari relasi yang tepat. Networking sekarang bukan soal sok akrab atau spam koneksi, tapi menembus algoritma lewat koneksi dan apa yang bisa kita beri. Di tengah bisingnya dunia digital, kualitas koneksi jauh lebih berharga daripada kuantitas kenalan. Networking bukan cuma soal 'kenal siapa', tapi 'siapa yang percaya dengan kerjamu'
Cara networking yang realistis:
- aktif di komunitas digital sesuai bidang
- ikut diskusi opini di kolom komentar, bukan cuma like
- terlibat di volunteer atau organisasi buat bangun relasi lewat kerja nyata
Volunteer dan organisasi sering jadi shortcut terbaik: kamu dinilai dari kontribusi, cara kerja, dan attitude, bukan sekadar CV.


7. Karier Itu Long Game, Bukan Sprint Ego
Di usia 20–30-an, quarter-life crisis dan burnout sering muncul barengan. Bukan karena kurang skill, tapi karena ritme kerja kebanyakan dipaksa cepat bandingin diri sama timeline orang lain, ngejar title, ngejar validasi.
Padahal karier yang sustain butuh:
- batas kerja yang jelas
- pace kerja yang masuk akal
- arah karir  jelas, bukan cuma title
- evaluasi diri tanpa self-blaming, karena growth itu proses


Pada akhirnya, dunia kerja digital tidak meminta kita menjadi robot yang sempurna, tapi meminta kita menjadi manusia yang paling cepat beradaptasi. Jangan terlalu keras pada diri sendiri karena melihat pencapaian orang lain di media sosial. Ingat, karier adalah maraton milikmu sendiri. Siap untuk mulai lari lagi hari ini?